Jakarta, 30 Agustus 2026 – Perkembangan terapi berbasis sel memberikan harapan baru dalam pengobatan kanker. Namun, terapi tersebut tidak dapat secara umum dianggap sebagai pengganti kemoterapi. Pemilihan terapi tetap harus mempertimbangkan jenis kanker, stadium, kondisi pasien, serta respons terhadap pengobatan sebelumnya.
Terapi berbasis sel, termasuk CAR-T cell, merupakan salah satu bentuk imunoterapi yang bekerja dengan memanfaatkan atau memodifikasi sel imun agar mampu mengenali dan menyerang sel kanker. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa CAR-T merupakan bagian dari pilihan terapi kanker dan penggunaannya disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
Terapi Sel Memiliki Target Penggunaan Tertentu
CAR-T cell saat ini terutama berkembang untuk menangani sejumlah kanker darah. Dalam terapi ini, sel T pasien diambil, kemudian direkayasa di laboratorium agar memiliki kemampuan mengenali antigen tertentu pada sel kanker. Setelah melalui proses pengolahan, sel tersebut dikembalikan ke tubuh pasien untuk membantu melawan kanker.
Teknologi tersebut telah menunjukkan hasil yang menjanjikan, terutama pada beberapa kasus leukemia, limfoma, dan multiple myeloma. Namun, penggunaannya tidak otomatis berlaku untuk seluruh jenis kanker atau seluruh pasien.
Kemoterapi Tetap Memiliki Peran Penting
Kemoterapi bekerja dengan menggunakan obat untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan sel kanker di dalam tubuh. Pada sejumlah jenis kanker, kemoterapi menjadi bagian utama dari rangkaian pengobatan dan dapat diberikan bersama operasi, radioterapi, terapi target, maupun imunoterapi.
Bahkan pada kanker darah tertentu, kemoterapi masih digunakan dalam tahapan pengobatan tertentu sebelum terapi lanjutan diberikan. Karena itu, menghentikan kemoterapi atau menggantinya dengan terapi sel tanpa pertimbangan dokter dapat berisiko terhadap keberhasilan pengobatan.
Terapi Bisa Saling Melengkapi
Pengobatan kanker modern semakin mengarah pada pendekatan kombinasi dan personalisasi. Artinya, pasien tidak selalu mendapatkan satu jenis terapi saja.
Dalam kondisi tertentu, terapi sel dapat diberikan setelah pasien tidak memberikan respons yang memadai terhadap terapi sebelumnya atau mengalami kekambuhan. Sebaliknya, pasien yang masih memberikan respons baik terhadap kemoterapi dapat tetap menjalani terapi tersebut sesuai rencana dokter.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa terapi sel dan kemoterapi tidak harus dipandang sebagai dua pilihan yang saling menggantikan. Keduanya dapat memiliki peran berbeda dalam rangkaian pengobatan kanker.
Akses Terapi Sel Masih Terbatas
Di Indonesia, pengembangan terapi berbasis sel terus dilakukan. BPOM menyebut terdapat 21 rumah sakit penyelenggara riset berbasis pelayanan terapi sel dan stem cell, didukung oleh laboratorium pengolahan sel serta bank sel. Pengembangan terapi tersebut tetap dilakukan dengan pengawasan terhadap aspek keamanan, mutu, dan khasiat.
Kementerian Kesehatan juga menegaskan bahwa pelayanan terapi sel punca harus dilakukan oleh tenaga ahli dan fasilitas kesehatan yang memiliki izin. Pengembangannya dilakukan secara bertahap melalui penelitian klinis dan penerapan standar pelayanan untuk memastikan keamanan pasien.
Jangan Menghentikan Pengobatan Sendiri
Kemajuan terapi sel memang membuka peluang baru bagi pasien kanker. Namun, teknologi tersebut belum berarti semua pasien dapat meninggalkan kemoterapi.
Pasien kanker sebaiknya tidak menghentikan kemoterapi atau mengganti pengobatan dengan terapi sel atas keputusan sendiri. Dokter spesialis onkologi perlu menentukan terapi berdasarkan diagnosis, karakteristik kanker, kondisi tubuh, serta hasil pengobatan yang telah dijalani.
Dengan perkembangan terapi kanker yang semakin beragam, tujuan utama bukan sekadar mengganti satu metode dengan metode lain, melainkan menemukan kombinasi atau pilihan terapi yang paling tepat dan aman bagi setiap pasien.