Tokyo, 31 Agustus 2026 – Sebanyak 35,1 persen anak muda lajang di Jepang mengaku tidak memiliki rencana untuk menikah, berdasarkan hasil survei pemerintah yang dirilis pada Senin, 31 Agustus 2026. Temuan tersebut memperlihatkan perubahan pandangan mengenai pernikahan di kalangan generasi muda Jepang, terutama ketika kehidupan berkeluarga semakin dikaitkan dengan kesiapan ekonomi, kebebasan pribadi, dan perubahan gaya hidup. Survei berskala besar itu dilakukan Badan Anak dan Keluarga Jepang untuk memahami pandangan generasi muda terhadap hubungan, pernikahan, serta berbagai faktor yang memengaruhi keputusan mereka. Dari sekitar 100.000 laki-laki dan perempuan berusia 15 hingga 39 tahun yang menjadi sasaran survei, sekitar 68.000 tanggapan dinyatakan valid hingga 23 Juli. Hasil tersebut kemudian memberikan gambaran mengenai semakin beragamnya pilihan anak muda Jepang dalam menentukan masa depan kehidupan pribadi mereka.
Survei tersebut menunjukkan bahwa keputusan untuk tidak menikah tidak selalu berarti seluruh anak muda menolak gagasan membangun keluarga. Sebanyak 37,5 persen responden mengatakan masih ingin menikah suatu hari nanti, sementara 10,3 persen berharap dapat menikah dalam dua hingga tiga tahun mendatang. Selain itu, 9,5 persen menyatakan ingin menikah sesegera mungkin. Angka tersebut memperlihatkan adanya kelompok besar yang masih terbuka terhadap pernikahan, tetapi memilih menunda keputusan tersebut sampai kondisi tertentu dianggap lebih mendukung. Perubahan sikap itu menjadi bagian dari fenomena sosial yang berkembang di Jepang ketika generasi muda semakin mempertimbangkan aspek finansial, waktu pribadi, serta kecocokan pasangan sebelum mengambil keputusan jangka panjang. Dengan demikian, persoalan rendahnya minat menikah tidak semata-mata dapat dipahami sebagai penolakan terhadap institusi keluarga, tetapi juga sebagai perubahan cara generasi muda melihat prioritas kehidupan.
Faktor ekonomi menjadi salah satu alasan paling menonjol dalam hasil survei tersebut. Sekitar 40 persen responden menyebut kekhawatiran memiliki penghasilan yang cukup untuk menjalani kehidupan rumah tangga secara stabil sebagai salah satu hambatan menuju pernikahan. Kekhawatiran mengenai tempat tinggal dan kemampuan menyediakan dana untuk memiliki hunian setelah menikah juga disebut oleh 30,3 persen responden. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa biaya kehidupan rumah tangga menjadi pertimbangan penting bagi generasi muda Jepang ketika memikirkan masa depan. Bagi sebagian responden, pernikahan dipandang bukan hanya sebagai keputusan emosional, tetapi juga sebagai komitmen yang membutuhkan kesiapan ekonomi dalam jangka panjang. Tekanan mengenai pendapatan, tempat tinggal, dan kebutuhan kehidupan sehari-hari pada akhirnya dapat membuat sebagian anak muda memilih menunda pernikahan atau tidak menjadikannya sebagai prioritas utama.
Selain persoalan ekonomi, perubahan gaya hidup turut memengaruhi cara generasi muda Jepang memandang pernikahan. Sebanyak 50,8 persen responden mengatakan mereka lebih memprioritaskan menikmati waktu luang dan menjalankan hobi dibandingkan menikah. Sementara itu, 34,4 persen menyebut kekhawatiran kehilangan waktu luang atau berkurangnya kesempatan menjalankan hobi sebagai salah satu hambatan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa keseimbangan antara kehidupan pribadi dan hubungan keluarga menjadi perhatian yang semakin besar. Bagi sebagian anak muda, kebebasan menentukan waktu, menjalankan aktivitas yang disukai, serta mempertahankan ruang pribadi dianggap sebagai bagian penting dari kualitas hidup. Perubahan tersebut turut membentuk pola pikir baru bahwa pernikahan tidak harus menjadi tujuan utama kehidupan apabila seseorang merasa masih memiliki prioritas lain yang ingin dicapai.
Faktor hubungan personal juga menjadi bagian dari persoalan tersebut. Sekitar 32,6 persen responden mengatakan mereka tidak memiliki seseorang yang membuat mereka merasa ingin menikah. Kondisi ini menunjukkan bahwa keputusan mengenai pernikahan juga berkaitan erat dengan kesempatan membangun hubungan romantis dan menemukan pasangan yang dianggap sesuai. Ketika seseorang tidak memiliki pasangan atau belum menemukan hubungan yang dianggap cukup kuat untuk dilanjutkan ke jenjang pernikahan, keinginan untuk membangun rumah tangga tentu dapat mengalami penundaan. Situasi tersebut kemudian berinteraksi dengan berbagai pertimbangan lain, termasuk kondisi ekonomi dan keinginan mempertahankan kemandirian. Akumulasi berbagai faktor tersebut membuat pilihan untuk tetap lajang menjadi semakin dapat diterima sebagai salah satu alternatif kehidupan bagi sebagian generasi muda.
Fenomena tersebut berlangsung di tengah persoalan demografi yang telah lama menjadi tantangan bagi Jepang. Rendahnya angka pernikahan berkaitan dengan kecenderungan kelahiran yang juga menurun karena sebagian besar kelahiran di Jepang berlangsung dalam ikatan perkawinan. Ketika semakin banyak pasangan menunda pernikahan, dampaknya dapat berlanjut terhadap keputusan untuk memiliki anak dan membentuk keluarga. Pemerintah Jepang selama beberapa tahun terakhir menghadapi tantangan berupa populasi yang menua, jumlah kelahiran yang rendah, serta kebutuhan mempertahankan tenaga kerja di tengah perubahan struktur penduduk. Karena itu, survei mengenai pandangan generasi muda terhadap pernikahan menjadi penting untuk memahami faktor sosial dan ekonomi yang berada di balik perubahan demografi tersebut. Kebijakan yang berkaitan dengan keluarga tidak hanya membutuhkan dukungan finansial, tetapi juga perlu mempertimbangkan perubahan kebutuhan dan harapan generasi muda.
Hasil survei juga memperlihatkan bahwa keputusan mengenai pernikahan semakin terkait dengan konsep kualitas hidup dan kebebasan menentukan masa depan. Generasi muda tidak hanya mempertimbangkan apakah mereka ingin memiliki pasangan, tetapi juga memikirkan bagaimana kehidupan setelah menikah akan memengaruhi pekerjaan, pendapatan, waktu luang, tempat tinggal, serta hubungan sosial. Perubahan tersebut dapat menjadi tantangan bagi pemerintah yang berupaya meningkatkan angka pernikahan dan kelahiran melalui berbagai kebijakan keluarga. Pendekatan yang hanya berfokus pada pemberian insentif finansial dinilai perlu berjalan beriringan dengan upaya menciptakan lingkungan kehidupan yang lebih mendukung bagi generasi muda. Stabilitas pekerjaan, kemampuan memperoleh tempat tinggal, pembagian tanggung jawab dalam rumah tangga, serta kesempatan mempertahankan kehidupan pribadi menjadi faktor yang turut menentukan keputusan seseorang. Dengan memahami persoalan secara lebih menyeluruh, perubahan pandangan terhadap pernikahan dapat dilihat sebagai bagian dari transformasi sosial yang berlangsung di masyarakat Jepang.
Survei terbaru tersebut pada akhirnya memberikan gambaran bahwa pilihan untuk menikah atau tetap lajang di kalangan anak muda Jepang semakin dipengaruhi oleh kombinasi faktor ekonomi, hubungan personal, dan gaya hidup. Meskipun 35,1 persen responden menyatakan tidak berencana menikah, masih terdapat kelompok cukup besar yang ingin menikah pada waktu tertentu atau ketika kondisi kehidupan mereka dianggap lebih siap. Hal itu menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi Jepang bukan semata-mata hilangnya keinginan generasi muda untuk membangun keluarga, melainkan adanya berbagai hambatan yang membuat keputusan tersebut semakin kompleks. Pemerintah akan menghadapi tantangan untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan anak muda mengambil keputusan mengenai keluarga tanpa merasa terbebani oleh tekanan ekonomi maupun kehilangan kualitas hidup. Perkembangan sikap generasi muda tersebut juga akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah kebijakan kependudukan Jepang pada masa mendatang. Jika kecenderungan menunda atau menghindari pernikahan terus berlanjut, dampaknya berpotensi semakin terasa terhadap struktur penduduk, jumlah kelahiran, serta kebutuhan sosial dan ekonomi Jepang dalam jangka panjang.