Jakarta, 24 September 2026 – Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung mendorong agar dialog antara Amerika Serikat dan Korea Utara yang telah lama terhenti dapat segera dilanjutkan. Lee menyampaikan dorongan tersebut ketika berpidato dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-81 di New York. Ia menempatkan pembukaan kembali jalur komunikasi Washington-Pyongyang sebagai bagian dari upaya menciptakan perdamaian yang berkelanjutan di Semenanjung Korea. Lee juga menyatakan Korea Selatan siap membantu menciptakan landasan yang diperlukan untuk mendorong proses diplomasi tersebut.
Dalam pidatonya, Lee mengatakan dirinya berharap dialog Amerika Serikat dan Korea Utara dapat kembali berjalan tanpa penundaan lebih lama. Menurutnya, komunikasi tersebut dapat dikembangkan menjadi pembicaraan yang lebih luas dengan melibatkan pihak-pihak terkait. Tujuan jangka panjang yang disampaikan Lee adalah mengakhiri kondisi perang di Semenanjung Korea dan beralih menuju rezim perdamaian. Korea Utara dan Korea Selatan secara teknis masih berada dalam keadaan perang karena Perang Korea 1950-1953 berakhir melalui gencatan senjata, bukan perjanjian damai.
Lee sebelumnya menggambarkan peran yang ingin dimainkan Korea Selatan sebagai “pacemaker” dalam proses diplomasi antara Washington dan Pyongyang. Pendekatan tersebut diarahkan untuk membantu membuka kembali komunikasi yang selama beberapa tahun mengalami kebuntuan. Pemerintah Korea Selatan di bawah Lee berupaya mengurangi ketegangan sambil menciptakan kondisi yang memungkinkan pembicaraan berlangsung kembali. Namun, perkembangan proses tersebut tetap bergantung pada keputusan Amerika Serikat dan Korea Utara sebagai pihak utama dalam dialog.
Dorongan Lee muncul ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyatakan keterbukaan terhadap dialog dengan Korea Utara. Lee dan Trump bertemu selama sekitar 30 menit di New York pada 22 September di sela rangkaian Sidang Majelis Umum PBB. Menurut Penasihat Keamanan Nasional Korea Selatan Wi Sung-lac, Trump kembali menegaskan komitmennya untuk melakukan dialog dengan Pyongyang. Kedua pemimpin juga sepakat mempertahankan komunikasi erat mengenai upaya mendorong kembali pembicaraan Amerika Serikat-Korea Utara.
Pertemuan tersebut tidak hanya membahas Korea Utara. Lee dan Trump turut membicarakan sejumlah isu strategis, termasuk kerja sama pembuatan kapal, rencana kapal selam bertenaga nuklir Korea Selatan, pengayaan uranium dan pemrosesan kembali bahan bakar nuklir bekas, serta transfer kendali operasional masa perang. Meski demikian, isu perdamaian Semenanjung Korea tetap menjadi salah satu agenda penting. Kedua pemimpin menyatakan perlunya menjaga komunikasi agar peluang pembicaraan dengan Pyongyang dapat dimanfaatkan ketika kondisi memungkinkan.
Lee juga mengusulkan pendekatan bertahap dalam menangani program nuklir Korea Utara. Dalam wawancara menjelang pidatonya di PBB, ia menilai penghentian pengembangan senjata nuklir tambahan dapat menjadi langkah awal sebelum bergerak menuju proses perlucutan yang lebih luas. Lee sebelumnya mengemukakan kemungkinan pertukaran antara pelonggaran sanksi dan penghentian pengembangan tambahan senjata nuklir serta teknologi rudal balistik antarbenua. Usulan tersebut merupakan posisi pemerintah Korea Selatan dan belum menjadi kesepakatan antara Washington dan Pyongyang.
Upaya diplomasi berlangsung di tengah ketegangan keamanan yang belum mereda. Korea Utara pada 20 September meluncurkan dua rudal balistik jarak pendek ke arah laut dari kawasan Wonsan di pantai timur. Pyongyang juga terus mengembangkan kemampuan militernya sambil mengkritik latihan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan sekutunya. Kondisi tersebut membuat pembukaan kembali dialog menghadapi tantangan karena perbedaan posisi mengenai program nuklir, sanksi, dan kebijakan keamanan di kawasan masih besar.
Hubungan antar-Korea sendiri masih berada dalam kondisi yang sulit. Pemerintah Lee berupaya mendorong kebijakan hidup berdampingan secara damai dan mengurangi ketegangan, sementara Pyongyang sejauh ini belum merespons tawaran dialog Seoul secara positif. Korea Utara juga telah mengambil sikap yang semakin keras terhadap hubungan dengan Korea Selatan dalam beberapa tahun terakhir. Karena itu, Seoul melihat terbukanya komunikasi Amerika Serikat-Korea Utara sebagai salah satu kemungkinan jalan untuk menciptakan ruang bagi dialog antar-Korea pada tahap berikutnya.
Lee menilai proses membangun kembali kepercayaan tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Ia sebelumnya menyatakan bahwa ketidakpercayaan yang telah berlangsung lama membutuhkan langkah bertahap dan komunikasi berkelanjutan. Pemerintah Korea Selatan karena itu berupaya menghindari pendekatan yang hanya mengandalkan satu pertemuan untuk menyelesaikan seluruh persoalan keamanan. Strategi Seoul lebih diarahkan pada pembukaan komunikasi, pengurangan ketegangan, penghentian pengembangan kemampuan nuklir tambahan, dan kemudian pembicaraan menuju penyelesaian yang lebih luas.
Meski Lee dan Trump sama-sama menyatakan keterbukaan terhadap dialog, belum ada kepastian mengenai waktu pembicaraan baru antara Washington dan Pyongyang. Korea Utara belum mengumumkan kesediaan untuk kembali ke meja perundingan berdasarkan perkembangan terbaru. Lee menyatakan Korea Selatan akan terus berusaha menciptakan kondisi yang dapat membuka jalan bagi proses diplomasi. Pemerintah Seoul berharap komunikasi Amerika Serikat-Korea Utara pada akhirnya dapat berkembang menjadi pembicaraan yang lebih luas untuk mengurangi ketegangan dan membangun perdamaian berkelanjutan di Semenanjung Korea.