Jakarta, 7 September 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta sektor pertanian meningkatkan kewaspadaan menghadapi periode puncak musim kemarau yang berlangsung bersamaan dengan fenomena El Nino kuat. Kombinasi kedua kondisi tersebut berpotensi menyebabkan curah hujan semakin rendah, memperpanjang periode tanpa hujan, dan meningkatkan risiko defisit air pada sejumlah sentra produksi pangan. Dampak paling signifikan diperkirakan terjadi di wilayah Indonesia bagian selatan garis khatulistiwa, termasuk Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, hingga Papua bagian selatan. Kondisi kering pada sebagian wilayah diperkirakan masih menjadi perhatian selama September hingga Oktober 2026. Karena itu, petani dan pemerintah daerah diminta menyesuaikan pola tanam dengan kondisi iklim aktual agar risiko penurunan produksi maupun gagal panen dapat ditekan.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani sebelumnya menjelaskan El Nino 2026 telah berada pada kategori kuat dan berpotensi berkembang dengan intensitas lebih tinggi. Berdasarkan pemantauan BMKG, indeks ENSO telah berada pada kisaran +1,59 berdasarkan perkembangan anomali suhu permukaan laut di wilayah Nino 3.4. Kondisi tersebut menunjukkan penguatan El Nino yang dapat memengaruhi distribusi curah hujan di Indonesia. Namun, BMKG menekankan El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomena yang berbeda. Musim kemarau merupakan bagian dari siklus tahunan, sedangkan El Nino merupakan fenomena iklim global yang muncul secara periodik. Risiko menjadi lebih besar ketika keduanya berlangsung bersamaan karena El Nino dapat memperkuat kondisi kering yang sudah terjadi selama musim kemarau.
Berdasarkan prakiraan musim yang disampaikan BMKG, puncak kemarau 2026 tidak berlangsung serentak di seluruh Indonesia. Sekitar 48,84 persen wilayah diprakirakan mengalami puncak musim kemarau pada Agustus, sementara sekitar 25,41 persen lainnya memasuki puncak kemarau pada September. Di sejumlah daerah, terutama Jawa Barat, periode kering bahkan diperkirakan masih terasa kuat hingga Oktober. Perbedaan tersebut berkaitan dengan karakteristik iklim Indonesia yang terbagi ke dalam ratusan Zona Musim atau ZOM. Setiap wilayah dapat mempunyai waktu awal, puncak, dan akhir musim kemarau yang berbeda. Karena itu, BMKG meminta kebijakan pertanian tidak menggunakan satu kalender tanam yang sama untuk seluruh daerah tanpa mempertimbangkan informasi iklim setempat.
Sektor pertanian menjadi salah satu bidang yang mendapatkan perhatian besar karena keterbatasan air dapat langsung memengaruhi fase pertumbuhan tanaman. Tanaman yang mengalami kekurangan air pada fase kritis berisiko mengalami gangguan pertumbuhan hingga penurunan produktivitas. Kondisi yang lebih berat dapat meningkatkan risiko puso apabila tanaman tidak memperoleh pasokan air yang mencukupi dalam periode panjang. Ancaman tersebut terutama perlu diperhatikan pada lahan pertanian yang sangat bergantung pada curah hujan atau tidak mempunyai sistem irigasi memadai. Ketersediaan air di waduk, embung, saluran irigasi, dan sumber air lokal juga perlu dikelola lebih ketat selama periode kering. BMKG karena itu mendorong informasi cuaca dan iklim digunakan sebagai salah satu dasar dalam menentukan waktu tanam dan pengelolaan air pertanian.
Salah satu rekomendasi yang disampaikan adalah mempercepat waktu tanam pada wilayah yang masih mempunyai ketersediaan air sebelum periode defisit mencapai tingkat paling tinggi. Petani juga dianjurkan mempertimbangkan penggunaan varietas tanaman berumur genjah yang mempunyai masa pertumbuhan relatif lebih singkat. Penggunaan varietas yang lebih toleran terhadap kondisi kering dapat menjadi pilihan sesuai karakteristik lahan dan komoditas di masing-masing daerah. Distribusi air perlu diprioritaskan pada fase pertumbuhan tanaman yang paling membutuhkan pasokan air. Pada wilayah dengan risiko kekeringan sangat tinggi, ekspansi kegiatan pertanian juga perlu dilakukan secara hati-hati. Penyesuaian tersebut bertujuan menjaga produktivitas tanpa memaksakan kegiatan budidaya ketika ketersediaan air tidak mencukupi.
Pengelolaan irigasi menjadi aspek penting lainnya selama puncak kemarau. Air yang tersedia perlu dialokasikan secara efisien agar dapat memenuhi kebutuhan lahan pertanian selama mungkin. Pemerintah pusat dan daerah juga didorong mengoptimalkan waduk, embung, bendungan, pompa, serta sumber air lainnya untuk mempertahankan suplai ke sentra produksi pangan. BMKG bersama kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah turut mendukung Operasi Modifikasi Cuaca pada sejumlah wilayah untuk membantu menjaga cadangan air strategis. Pelaksanaannya dilakukan berdasarkan kondisi atmosfer dan ketersediaan awan yang memenuhi persyaratan. Modifikasi cuaca bukan pengganti pengelolaan air jangka panjang, tetapi menjadi salah satu instrumen mitigasi ketika kondisi meteorologis memungkinkan.
BMKG juga mengingatkan dampak El Nino tidak akan sama di seluruh wilayah Indonesia. Sebagian daerah dapat mengalami penurunan curah hujan yang signifikan, sementara wilayah lainnya masih berpeluang mendapatkan hujan lokal. Karena itu, label El Nino kuat tidak berarti seluruh Indonesia otomatis mengalami kekeringan dengan tingkat keparahan yang sama. Pemerintah daerah dan pelaku pertanian diminta menggunakan prakiraan berbasis wilayah untuk menentukan langkah yang paling sesuai. Koordinasi dengan unit pelaksana teknis BMKG di masing-masing daerah juga dapat dilakukan untuk memperoleh informasi iklim yang lebih spesifik. Pendekatan berbasis wilayah dinilai penting agar keputusan mengenai waktu tanam, irigasi, dan pemilihan komoditas tidak hanya berdasarkan pola musim pada tahun-tahun sebelumnya.
Selain El Nino, BMKG turut mencermati perkembangan Indian Ocean Dipole atau IOD yang berpotensi bergerak menuju fase positif pada September hingga Desember 2026. Apabila kondisi tersebut berkembang bersamaan dengan El Nino, peluang berkurangnya curah hujan di sebagian wilayah Indonesia dapat semakin meningkat. BMKG memprediksi El Nino sendiri dapat bertahan setidaknya hingga awal kuartal pertama 2027, meskipun hal itu tidak berarti musim kemarau akan berlangsung selama periode yang sama. Pergantian musim tetap dipengaruhi berbagai dinamika atmosfer dan kondisi regional Indonesia. Hujan dapat kembali meningkat secara bertahap ketika sejumlah wilayah memasuki periode peralihan menuju musim hujan. Karena itu, perkembangan kondisi atmosfer akan terus dipantau untuk memperbarui prakiraan secara berkala.
Risiko pada sektor pertanian juga berpotensi merambat ke ketahanan pangan dan pergerakan harga apabila produksi sejumlah komoditas mengalami tekanan. Penurunan hasil panen secara bersamaan di beberapa sentra produksi dapat memengaruhi pasokan yang masuk ke pasar. Pemerintah karena itu perlu mengintegrasikan prakiraan musim dengan pemantauan produksi, stok, distribusi, dan harga pangan. Langkah antisipasi tidak hanya dibutuhkan ketika tanaman mulai mengalami kekeringan, tetapi harus disiapkan sebelum periode kritis berlangsung. Informasi iklim dapat digunakan untuk menentukan wilayah yang membutuhkan prioritas irigasi maupun dukungan sarana produksi. Dengan pendekatan tersebut, dampak kemarau terhadap produksi pangan diharapkan dapat dikendalikan sebelum berkembang menjadi persoalan pasokan yang lebih luas.
Memasuki September 2026, BMKG menekankan bahwa kesiapsiagaan menjadi kunci karena sebagian wilayah masih berada pada periode kemarau dengan kondisi panas dan kering. Petani dianjurkan terus mengikuti informasi prakiraan cuaca dan iklim sebelum menentukan jadwal tanam maupun kegiatan budidaya. Pemerintah daerah juga perlu memastikan cadangan air dan jaringan irigasi dikelola secara efisien, terutama di wilayah yang sudah mengalami hari tanpa hujan berkepanjangan. Penyesuaian pola tanam, penggunaan varietas berumur pendek dan lebih tahan kekeringan, serta prioritas distribusi air pada fase kritis tanaman menjadi beberapa langkah yang dapat dilakukan. Mitigasi yang disiapkan lebih awal dinilai dapat membantu mengurangi risiko penurunan produktivitas dan puso akibat kekurangan air. Dengan El Nino kuat yang masih berlangsung, sektor pertanian perlu mempertahankan kewaspadaan hingga kondisi curah hujan menunjukkan pemulihan yang lebih konsisten.