Semarang, 6 September 2026 – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mendorong peningkatan produksi susu sapi perah melalui pemanfaatan teknologi inseminasi buatan yang memungkinkan peternak mengarahkan jenis kelamin anak sapi sesuai kebutuhan pengembangan ternak. Teknologi tersebut menggunakan semen beku sapi perah sexing yang dikembangkan untuk meningkatkan peluang kelahiran pedet dengan jenis kelamin yang telah dipilih. Bagi usaha sapi perah, kelahiran pedet betina menjadi penting karena dapat menambah jumlah calon indukan penghasil susu pada masa mendatang. Pemprov Jateng melihat inovasi tersebut sebagai salah satu instrumen untuk mempercepat peningkatan populasi sekaligus memperkuat produktivitas peternakan. Pengembangan teknologi juga dibarengi dengan perluasan sentra sapi perah di sejumlah daerah potensial. Langkah tersebut diharapkan membuat Jawa Tengah semakin kuat sebagai salah satu wilayah penghasil susu nasional. Pemerintah daerah menilai peningkatan populasi ternak harus dilakukan secara terencana agar pertumbuhan produksi dapat berlangsung berkelanjutan.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengatakan teknologi tersebut memberikan kesempatan kepada peternak untuk menyesuaikan kelahiran anak sapi dengan arah pengembangan usahanya. Peternak yang membutuhkan tambahan sapi betina dapat menggunakan inseminasi buatan dengan semen sexing yang diarahkan untuk menghasilkan pedet betina. Sebaliknya, teknologi juga dapat digunakan apabila peternak membutuhkan kelahiran pejantan sesuai tujuan budidaya. Kemampuan mengatur komposisi populasi tersebut dinilai menjadi terobosan penting dalam pengembangan peternakan modern. Taj Yasin menyampaikan hal itu ketika menghadiri Jateng Livestock Fest 2026 di halaman Kantor Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah, Semarang, Jumat, 4 September 2026. Pemerintah berharap inovasi reproduksi tidak hanya digunakan pada skala tertentu, tetapi secara bertahap dapat memberikan manfaat kepada lebih banyak peternak. Penerapan teknologi tetap perlu dibarengi pendampingan agar hasil yang diperoleh sesuai dengan kebutuhan pengembangan ternak.
Pemprov Jateng mempunyai kepentingan besar memperkuat sektor sapi perah karena provinsi tersebut saat ini memberikan kontribusi sekitar 9,4 persen terhadap produksi susu nasional. Kontribusi tersebut menempatkan Jawa Tengah pada posisi ketiga sebagai daerah penghasil susu di Indonesia. Pemerintah provinsi ingin meningkatkan posisi tersebut dengan memperkuat populasi ternak produktif dan membangun ekosistem persusuan yang lebih baik. Taj Yasin menargetkan Jawa Tengah semakin berkembang sebagai salah satu sentra produksi susu nasional. Upaya tersebut membutuhkan peningkatan jumlah sapi perah sekaligus produktivitas setiap ternak sehingga pertumbuhan produksi tidak hanya mengandalkan penambahan populasi. Ketersediaan pakan berkualitas, kesehatan ternak, kualitas genetik, serta pengelolaan kandang juga menjadi faktor yang tidak dapat dipisahkan. Inseminasi buatan dengan semen sexing karena itu ditempatkan sebagai bagian dari strategi yang lebih luas untuk memperkuat industri persusuan daerah.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah Defransisco Dasilva Tavares menjelaskan teknologi tersebut menggunakan semen beku sapi perah sexing yang dikembangkan Balai Inseminasi Buatan Jawa Tengah. Teknologi sexing pada prinsipnya memungkinkan pemilihan sperma berdasarkan kromosom pembawa jenis kelamin sehingga peluang mendapatkan pedet sesuai kebutuhan dapat ditingkatkan. Dalam konteks peternakan sapi perah, teknologi tersebut dapat diarahkan untuk memperbesar proporsi kelahiran betina sebagai calon indukan. Peternak yang memiliki sejumlah sapi produktif dapat merencanakan proses inseminasi berdasarkan kebutuhan populasi dalam beberapa tahun berikutnya. Cara tersebut memberikan pendekatan yang lebih terukur dibandingkan mengandalkan komposisi kelahiran secara alami. Meski demikian, keberhasilan inseminasi tetap dipengaruhi berbagai faktor seperti kesehatan reproduksi induk, ketepatan waktu inseminasi, kualitas semen, dan keterampilan petugas. Karena itu, penggunaan teknologi harus didukung pelayanan reproduksi dan pendampingan peternak yang memadai.
Penguatan produksi susu menjadi penting karena Jawa Tengah menghadapi sejumlah tantangan dalam sektor peternakan sapi perah. Dalam beberapa tahun terakhir, produksi susu daerah mengalami tekanan yang antara lain berkaitan dengan penurunan populasi sapi perah dan kualitas genetik ternak. Sebagian peternak juga beralih ke kegiatan usaha lain yang dinilai memberikan keuntungan lebih baik. Persoalan ketersediaan hijauan pakan dan kualitas konsentrat turut memengaruhi kemampuan sapi menghasilkan susu secara optimal. Penyakit hewan menular juga dapat memberikan dampak terhadap populasi dan produktivitas apabila tidak dikendalikan secara efektif. Kondisi tersebut menunjukkan peningkatan produksi tidak dapat dicapai hanya dengan memperbanyak jumlah ternak dalam waktu singkat. Pemerintah perlu memastikan peternak mempunyai akses terhadap bibit berkualitas, pelayanan kesehatan, pakan, teknologi reproduksi, serta pasar yang mampu memberikan kepastian usaha.
Sebagai bagian dari pengembangan tersebut, Pemprov Jateng memperkuat sentra sapi perah di Kabupaten Batang dan Kabupaten Brebes. Komitmen pengembangan sapi perah di kedua daerah ditandatangani dalam rangkaian Jateng Livestock Fest 2026. Pemilihan kawasan pengembangan dilakukan dengan mempertimbangkan potensi wilayah serta kesiapan ekosistem peternakan yang dapat dibangun secara berkelanjutan. Pemerintah berharap terbentuk sentra baru yang mampu memperluas basis produksi susu di luar kawasan peternakan yang selama ini telah berkembang. Dalam kegiatan tersebut, semen beku sapi perah sexing juga diserahkan kepada Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Batang. Bantuan sapi perah diberikan kepada Kelompok Tani Banjarsari I di Desa Semampir, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang. Dukungan tersebut diharapkan dapat mempercepat penerapan teknologi sekaligus menjadi contoh pengembangan sapi perah berbasis kelompok peternak.
Pemprov Jateng juga meluncurkan Gerbang Susu Jawa Tengah atau Gerakan Pengembangan Persusuan Jawa Tengah sebagai bagian dari strategi memperkuat ekosistem sektor tersebut. Program ini diarahkan agar pengembangan persusuan tidak berhenti pada peningkatan jumlah sapi, tetapi mencakup rantai usaha yang lebih luas. Peternak membutuhkan kepastian pasar agar tambahan produksi susu dapat diserap dengan harga yang memberikan keuntungan memadai. Pada saat yang sama, kualitas susu perlu dijaga sehingga mampu memenuhi standar yang dibutuhkan industri maupun konsumen. Penguatan kelembagaan kelompok peternak dan koperasi juga menjadi bagian penting untuk meningkatkan posisi tawar produsen di tingkat hulu. Dengan ekosistem yang lebih terintegrasi, peningkatan populasi melalui inseminasi buatan diharapkan dapat berujung pada peningkatan pendapatan peternak. Pemerintah ingin pertumbuhan sektor persusuan memberikan dampak ekonomi langsung kepada masyarakat di daerah sentra.
Peningkatan produksi juga akan diimbangi dengan upaya mendorong konsumsi protein hewani masyarakat. Taj Yasin menilai ketersediaan susu yang semakin besar seharusnya memberikan manfaat terhadap peningkatan kualitas gizi masyarakat Jawa Tengah. Pemerintah karena itu tidak hanya melihat susu sebagai komoditas ekonomi, tetapi juga sebagai salah satu sumber protein dan zat gizi yang diperlukan dalam pola makan seimbang. Dalam rangkaian kegiatan peternakan tersebut digelar Gerakan Minum Susu serta penyaluran paket protein hewani kepada masyarakat. Sebanyak 200 paket yang berisi ayam, susu, dan telur dibagikan sebagai bagian dari edukasi mengenai konsumsi pangan bergizi. Pendekatan produksi dan konsumsi dinilai perlu berjalan bersamaan agar pengembangan peternakan mempunyai manfaat ekonomi sekaligus sosial. Meningkatnya permintaan masyarakat juga dapat menciptakan pasar yang lebih luas bagi peternak lokal.
Jateng Livestock Fest 2026 sendiri menjadi bagian dari rangkaian Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan ke-190 yang berlangsung pada 26 Agustus hingga 26 September 2026. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan pemerintah, peternak, pelaku usaha, serta berbagai pihak yang terlibat dalam sektor peternakan. Selain peluncuran Gerbang Susu dan penyerahan bantuan, agenda juga mencakup pasar hasil peternakan berkualitas dan sejumlah kegiatan edukasi kepada masyarakat. Pemerintah memanfaatkan momentum tersebut untuk memperkenalkan teknologi yang dapat diterapkan secara langsung dalam usaha peternakan. Inovasi inseminasi buatan dengan semen sexing menjadi salah satu yang mendapatkan perhatian karena berkaitan langsung dengan perencanaan populasi ternak. Keberhasilan penerapannya nantinya akan sangat bergantung pada kesiapan peternak serta dukungan layanan teknis di daerah. Evaluasi secara berkala juga diperlukan untuk melihat tingkat keberhasilan kebuntingan dan kelahiran pedet sesuai target.
Pemprov Jawa Tengah berharap penggunaan teknologi reproduksi dapat menjadi salah satu jawaban terhadap tantangan penurunan populasi dan produksi susu yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Penambahan sapi betina produktif melalui perencanaan kelahiran diharapkan memperkuat basis produksi susu dalam jangka menengah dan panjang. Namun, pemerintah juga menyadari teknologi inseminasi buatan bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan pengembangan sapi perah. Kualitas pakan, kesehatan hewan, manajemen kandang, kualitas genetik, akses pembiayaan, hingga kepastian pasar tetap harus diperkuat secara bersamaan. Pengembangan sentra baru di Batang dan Brebes menjadi bagian dari upaya memperluas ekosistem tersebut. Dengan kontribusi sekitar 9,4 persen terhadap produksi susu nasional, Jawa Tengah masih memiliki ruang untuk meningkatkan kapasitasnya. Inovasi semen sexing diharapkan membantu peternak mengelola populasi secara lebih terencana sehingga target memperkuat Jawa Tengah sebagai sentra produksi susu dapat diwujudkan secara bertahap.