Washington, 20 September 2026 – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan menyatakan dirinya sedang berada dalam tahap pengambilan keputusan mengenai langkah Washington selanjutnya. Trump mengatakan perkembangan besar dapat terjadi dalam waktu yang tidak terlalu lama, di tengah ketegangan yang terus meningkat antara kedua negara. Pernyataan itu muncul ketika konflik regional telah berlangsung berbulan-bulan dan memberikan tekanan besar terhadap keamanan serta perekonomian kawasan. Meski menggunakan retorika keras, Trump belum mengumumkan keputusan final mengenai tindakan baru terhadap Teheran. Jalur diplomasi, tekanan ekonomi, dan kemungkinan eskalasi militer masih sama-sama terbuka.
Dalam percakapan dengan wartawan Fox News, Trump menggambarkan dirinya sedang berada dalam deciding mode terkait Iran. Ia menyebut tiga jalur yang sedang dipertimbangkan, yakni meningkatkan tekanan militer, membiarkan tekanan ekonomi terhadap Iran berlanjut, atau mencapai kesepakatan melalui negosiasi. Trump juga menyampaikan peringatan dengan bahasa sangat keras mengenai konsekuensi apabila pemerintah Iran tidak mengubah sikapnya. Namun, belum terdapat pengumuman mengenai perintah operasi militer baru, tenggat waktu, maupun kerangka negosiasi yang telah disepakati. Karena itu, pernyataan tersebut sejauh ini masih berupa sinyal mengenai pilihan yang sedang dipertimbangkan Washington.
Ketegangan semakin meningkat setelah militer Iran menyatakan memperoleh informasi bahwa Amerika Serikat berpotensi mempersiapkan serangan baru dengan dukungan sejumlah negara kawasan. Teheran memperingatkan bahwa setiap serangan baru akan dibalas dan dapat menjadikan pangkalan serta kepentingan Amerika Serikat di kawasan sebagai sasaran. Iran juga memperingatkan negara-negara regional agar tidak memberikan dukungan bagi operasi militer terhadap wilayahnya. Ancaman balasan tersebut memperbesar kekhawatiran bahwa eskalasi berikutnya dapat meluas melampaui wilayah Iran. Situasi ini berlangsung ketika stabilitas kawasan sudah terganggu oleh konflik yang melibatkan sejumlah aktor regional.
Pemerintah Amerika Serikat pada saat bersamaan meningkatkan kewaspadaan bagi warga negaranya yang berada di Timur Tengah. Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan peringatan mengenai kemungkinan eskalasi mendadak yang dapat berdampak pada penerbangan, penutupan ruang udara, dan perjalanan di kawasan. Trump juga mempersingkat keberadaannya di Camp David dan kembali ke Gedung Putih lebih awal, meskipun pemerintah tidak memberikan penjelasan resmi mengenai alasan perubahan jadwal tersebut. Perkembangan itu terjadi bersamaan dengan meningkatnya ketegangan setelah serangan kelompok Houthi terhadap sasaran di Arab Saudi. Kondisi keamanan kawasan pun menjadi salah satu perhatian utama Washington menjelang rangkaian pertemuan internasional di New York.
Di tengah retorika keras tersebut, peluang diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Presiden Iran Masoud Pezeshkian dijadwalkan berada di New York untuk menghadiri Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ketika ditanya mengenai kemungkinan bertemu Pezeshkian, Trump menyatakan dirinya kemungkinan terbuka terhadap pertemuan tersebut. Belum ada konfirmasi bahwa pertemuan langsung kedua presiden telah dijadwalkan. Kehadiran para pemimpin dunia di New York tetap memberikan ruang bagi komunikasi langsung maupun melalui perantara apabila kedua pihak memilih kembali menempuh jalur perundingan.
Trump juga dijadwalkan membahas perkembangan Iran dengan para pemimpin negara Teluk, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Oman. Beberapa hari sebelumnya, ia mengatakan ingin mendengar langsung pandangan negara-negara tersebut sebelum menentukan langkah berikutnya. Negara-negara Teluk memiliki kepentingan besar terhadap stabilitas regional karena eskalasi konflik dapat berdampak pada infrastruktur energi, jalur perdagangan, dan keamanan wilayah mereka. Situasi di Selat Hormuz juga tetap menjadi perhatian karena jalur tersebut memiliki posisi strategis bagi perdagangan energi global. Pertemuan di sela Sidang Majelis Umum PBB karena itu berpotensi menjadi bagian penting dalam pertimbangan kebijakan Washington terhadap Iran.
Pernyataan Trump mengenai perkembangan besar yang dapat segera terjadi belum menjelaskan apakah Washington akan memilih eskalasi militer, memperketat tekanan ekonomi, atau kembali mendorong perundingan. Iran pada saat yang sama menunjukkan sikap bahwa mereka siap melakukan pembalasan jika menerima serangan baru, tetapi juga masih menyampaikan posisi mengenai kemungkinan diplomasi melalui perantara. Perbedaan kepentingan kedua pihak membuat arah perkembangan konflik tetap belum pasti. Pertemuan internasional di New York dalam beberapa hari mendatang dapat menjadi salah satu ruang untuk mengukur apakah ketegangan bergerak menuju konfrontasi lebih luas atau membuka kembali jalur diplomatik. Untuk saat ini, belum ada keputusan final Amerika Serikat mengenai tindakan baru terhadap Iran yang diumumkan secara resmi.